Senin, 20 Juni 2011

Berangkat dari Misi Sosial, Dituntut Telaten dan Sabar



Lokasinya berada diantara perumahan penduduk di Desa Daleman, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Lembaga yang didirikan dua tahun lalu itu hingga sekarang masih eksis. Bahkan, semakin mendapat perhatian dari masyarakat. Kini, Shafa Education Centre itu memberikan bimbingan kepada 12 anak berkebutuhan khusus.
DARI luar tak ada kesan yang menunjukkan bangunan itu adalah sekolah. Bangunan itu berbentuh rumah laiknya rumah penduduk lainnya. Hanya, di bagian depan, tepatnya menempel di pagar, terbentang baliho. Baliho itu yang mempertegas, rumah tersebut adalah tempat bimbingan. Yaitu, bimbingan untuk anak berkebutuhan khusus.
Pintu gerbang yang tidak begitu tinggi di rumah itu tertutup. Karena tak dikunci, gerbang itu sekali dorong sudah terbuka. Baru melangkahkan kaki, terlihat beberapa sepeda motor terparkir di samping rumah. Dan, dua orang sedang duduk di teras. Meski sudah menginjakkan kaki di teras, tak terdengar riuh laiknya sekolah-sekolah umum.
Ya, mereka berkumpul di bagian tengah rumah. Di tempat itu tertata meja yang dikelilingi beberapa anak. Mereka diam. Hanya tangan mereka yang bergerak berusaha menorehkan pensil di buku. Di samping anak-anak itu duduk beberapa orang yang tak lain adalah guru atau pembimbing. Ada yang perempuan, ada juga yang pria. Mereka dengan penuh kesabaran dan ketelatenan berusaha membimbing anak-anak itu.
Dari ruang tengah itu, nampak seorang perempuan berjilbab berjalan menuju ruang tamu. Dia pun duduk di kursi menghadap satu meja. Rima Sholihah, demikian perempuan itu menyebut namanya. Dia adalah kepala bimbingan di tempat itu. ’’Di sini sekarang ada 12 anak dan enam pembimbing,’’ ungkapnya.
Anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya bersama para pembimbing lainnya itu semuanya berkebutuhan khusus. Mereka antara lain, autis, down syndrome, gangguan saraf otak dan IQ rendah. Sehari-hari, Rima dan pembimbing lainnya selalu berinteraksi dengan anak-anak itu. ’’Untuk masuknya full. Mulai Senin sampai Sabtu. Tapi, ada yang seminggu tiga kali,’’ ujar perempuan berusia 27 tahun ini.
Sabar, telaten dan harus mempunyai rasa kasih sayang. Itu yang selama ini dilakukan Rima dan pembimbing lainnya. Shafa Education Centre sendiri berdiri dengan semangat sosial. Dia bersama beberapa teman lain ngobrol. Dari obrolan itu akhirnya menemui satu keinginan atau satu tekad untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk sesama. ’’Siapa saja yang membutuhkan, bisa langsung ke sini. Ini misi sosial. Semua ini memang berawal karena prihatin dengna anak-anak yang mengalami gangguan psikis maupun fisik,’’ katanya.
Diawal berdiri, ada empat guru atau pembimbing dan enam siswa. Selain guru dengan latar belakang psikolog, juga ada yang terapi. Hingga sekarang belum ada klasifikasi kelas. ’’Kami juga bekerjasama dengan dokter spesialis saraf,’’ ujarnya.
Karena sudah dua tahun, para pembimbing sudah terbiasa menghadapi anak-anak itu. Tak hanya terbiasa, namun juga sudah paham cara menghadapi dan membimbingnya. ’’Memang, kami harus telaten menghadapi mereka. Karena itu, pembimbing tidak boleh membawa persoalan di luar ke sini,’’ katanya. (radar mojokerto)

Baca Selengkapnya...;

Jumat, 10 Juni 2011

SHAFA GELAR EVALUASI PERKEMBANGAN ANAK



SEBAGAI satu satunya bimbingan berkebutuhan khusus di kab mojokerto, Shafa Education Centre menangani anak-anak berkebutuhan khusus seperti Autisme,ADD & ADHD / Hyperactive, Retardasi Mental,Down Syndrom, Cerebral Palsy, Disleksia/Learning Disability, Gangguan Bicara/Speech Delay.
Untuk mengevaluasi perkembangan anak didik, Rabu, 8 juni 2011 Shafa Education Centre menggelar kegiatan rutin yang diikuti seluruh wali murid dan siswa di tempat belajar Shafa Education Centre
Para wali murid mendapatkan penjelasan dari ahli konsultan yaitu dr. Heru Rustiadi, Sp.S dokter spesialis syaraf dan ahli terapis wicara Bpk Nurul Huda . Dalam kesempatan ini dr. Heru menjelaskan secara gamblang tentang penyebab dan macam celebral palsy, Retardasi mental, down syndrom dan cara penanganan anak berkebutuhan khusus.Termasuk cara penanganan bila anak demam, kejang, sebab kejang termasuk salah satu menyebab cerebral palsy. sesion ke dua diisi oleh ahli terapi wicara Bpk Nurul Huda yang berdinas di RS Umum Wahidin Sudiro Husodo Mojokerto. Bpk Nurul Huda menjelaskan tentang komunikasi dan cara-cara/trik memberikan pemahaman kepada anak berkebutuhan khusus. bagaimana agar anak mau membuka mulutnya, menjulurkan lidahnya. termasuk menunjukkan beberapa contoh alat peraga yang dapat menunjang dalam memberikan terapi wicara.
Sementara itu Sabarani, S.Psi, MM.Kes, M.Psi sebagai penanggung jawab psikologi dari Shafa Education centre dalam pertemuan informal dengan dr Hj Ikfina MKP membicarakan tentang Shafa, ada respon positif tentang keberadaan Shafa Education Centre.
Kesulitan yang dihadapi lembaga pendidikan sosial ini tempat belajar mengajar yang masih kontrak serta fasilitas untuk kurikulum berbasis multiple intelegensi yang masih kurang.
Walau demikian Shafa didampingi ahli konsultan yaitu dr. Heru Rustiadi, Sp.S dokter spesialis syaraf, dr. Rosyid Salim, Sp.Kj dokter spesialis kejiwaan/psikiater, fisioterapis dari RS Umum yaitu Ibu Ratna, Ahli terapi Wicara dari RS Umum Bpk Nurul Huda. Mereka ini ahli konsultan yang mempunyai misi sosial non komersial.
Shafa Education Centre juga menerima siswa baru, dibuka setiap hari baik itu dari kalangan mampu atau pun kurang mampu. shafa education centre juga memiliki lembaga konsultan psikologi yaitu yogaatma consulting sebuah lembaga konsultasi psikologi untuk anak di sekolah –sekolah formal dari TK – Perguruan tinggi, perusahaan/instansi maupun pekerja lepas lainnya. (ika)

Baca Selengkapnya...;

Minggu, 24 April 2011

Cerebral Palsy II

Definisi Cerebral Palsy

Cerebral palsy (CP) adalah kelainan dari fungsi motor (berlawanan dengan fungsi mental) dan postural tone yang didapat pada umur yang dini, bahkan sebelum kelahiran. Tanda-tanda dan gejala-gejala dari cerebral palsy biasanya menunjukan diri pada tahun pertama kehidupan.

Kelainan pada sistim motor ini adalah akibat dari luka-luka otak yang tidak progresif. Sistim motor tubuh menyediakan kemampuan untuk bergerak dan mengontrol gerakan-gerakan. Luka otak adalah segala kelainan dari struktur atau fungsi otak. "Tidak progresif" berarti bahwa luka tidak menghasilkan degenerasi otak yang terus menerus (berkelanjutan). Ia juga menyiratkan bahwa luka otak adalah akibat dari luka otak satu kali, yang tidak akan terjadi lagi. Apapun kerusakan otak yang terjadi pada saat luka adalah tingkat kerusakan untuk sisa kehidupan anak . Cerebral palsy mempengaruhi kira-kira satu sampai tiga dari setiap seribu anak-anak yang dilahirkan. Bagaimanapun, ia adalah lebih tinggi pada bayi-bayi yang dilahirkan dengan berat badan yang sangat rendah dan bayi-bayi prematur.

Dengan menarik, metode-metode perawatan yang baru yang berakibat pada angka kelangsungan hidup yang meningkat dari bayi-bayi dengan berat badan waktu lahir yang rendah dan prematur sebenarnya berakibat pada jumlah keseluruhan yang meningkat dari anak-anak dengan cerebral palsy. Teknologi-teknologi baru, bagaimanapun, tidak merubah angka dari cerebral palsy pada anak-anak yang dilahirkan dengan masa penuh dan berat badan yang normal.
Penyebab Cerebral Palsy

Istilah cerebral palsy tidak mengindikasikan penyebab atau prognosis dari anak dengan cerebral palsy. Ada banyak penyebab-penyebab yang mungkin dari cerebral palsy.

Pada bayi-bayi dengan masa penuh penyebab dari cerebral palsy biasanya adalah prenatal (sebelum kelahiran) dan tidak berhubungan dengan pada kejadian-kejadian pada saat kelahiran; pada kebanyakan kejadian-kejadian ia berhubungan dengan kejadian-kejadian yang terjadi selama kehamilan ketika fetus sedang berkembang didalam kandungan ibu.

Kelahiran prematur adalah faktor risiko untuk cerebral palsy. Otak premature berada pada risiko perdarahan yang tinggi, dan ketika cukup parah, ia dapat berakibat pada cerebral palsy. Anak-anak yang dilahirkan prematur dapat juga mengembangkan keadaan pernapasan menyusahkan yang serius yang disebabkan oleh paru-paru yang belum dewasa dan berkembang dengan buruk. Ini dapat menjurus pada periode-periode dari oksigen yang berkurang yang diantarkan ke otak yang mungkin berakibat pada cerebral palsy. Proses otak yang dimengeti dengan buruk yang diamati pada beberapa bayi-bayi prematur disebut periventricular leukomalacia. Ini adalah penyakit dimana lubang-lubang terbentuk pada bahan putih dari otak bayi prematur. Bahan putih adalah perlu untuk pemrosesan yang normal dari sinyal-sinyal yang dipancarkan keseluruh otak, dan dari otak ke seluruh tubuh.

Kelainan-kelainan bahan putih diamati pada banyak kasus-kasus dari cerebral palsy. Meskipun demikian, adalah penting untuk mengenali bahwa mayoritas yang besar dari bayi-bayi prematur, bahkan yang dilahirkan sangat prematur, tidak menderita cerebral palsy. Banyak kemajuan-kemajuan pada bidang neonatology (perawatan dan studi dari persoalan-persoalan yang mempengaruhi bayi-bayi yang baru dilahirkan) yang telah meningkatkan kelangsungan hidup dari bayi-bayi yang sangat prematur.

Penyebab-penyebab penting lainnya dari cerebral palsy termasuk kecelakaan-kecelakaan dari perkembangan otak, penyakit-penyakit genetik, stroke yang disebabkan oloeh pembuluh-pembuluh darah yang abnormal atau gumpalan-gumpalan darah, atau infeksi-infeksi dari otak.

Meskipun secara luas dipercayai bahwa penyebab yang paling umum dari cerebral palsy adalah kekurangan oksigen ke otak selama kelahiran (birth asphyxia), ia sebenarnya adalah penyebab yang sangat jarang dari cerebral palsy. Jika cerebral palsy adalah akibat dari birth asphyxia, bayi hampir selalu menderita neonatal encephalopathy yang parah dengan gejala-gejala selama beberapa hari pertama kehidupannya. Gejala-gejala ini termasuk:

* serangan-serangan,
* keiritasian,
* kerlipan-kerlipan,
* persoalan-persoalan memberi makan dan pernapasan,
* kelesuan, dan
* koma tergantung pada keparahan.

Pada kejadian-kejadian yang jarang, kecelakaan-kecelakaan kandungan selama kelahiran-kelahiran yang terutama sulit dapat menyebabkan kerusakan otak dan berakibat pada cerebral palsy. Berlawanan dengannya, adalah sangat tidak mungkin bahwa gejala-gejala cerebral palsy akan berkembang setelah berumur beberapa tahun sebagai akibat dari komplikasi-komplikasi kandungan.

Penyiksaan anak selama masa kanak-kanak dapat menyebabkan kerusakan otak yang signifikan dimana, pada gilirannya, dapat menjurus pada cerebral palsy. Penykisaan ini seringkali mengambil bentuk dari guncangan yang parah dari orangtua atau perawat yang frustrasi, yang menyebabkan hemorrhage (perdarahan) didalam atau tepat diluar otak. Untuk menambah persoalan lebih jauh, banyak anak-anak dengan kelainan-kelainan perkembangan berisiko untuk disiksa. Jadi, anak dengan cerebral palsy mungkin diperburuk secara signifikan atau bahkan dibunuh dengan kejadian tunggal dari penyiksaan.

Meskipun dengan keberagaman dari penyebab-penyebab cerebral palsy, banyak kasus-kasus menetap tanpa penyebab yang jelas. Bagaimanapun, kemampuan yang meningkat untuk melihat struktur otak dengan magnetic resonance imaging (MRI) dan CT scans serta kemampuan-kemampuan diagnostik yang diperbaiki untuk penyakit-penyakit genetik telah membuat jumlah dari kasus-kasus semacam ini jauh lebih rendah.
Tipe-Tipe Dari Cerebral Palsy

Berdasarkan pada bentuk dari gangguan motor, cerebral palsy dapat dibagi kedalam tipe-tipe:

* spastic cerebral palsy,
* choreoathetoid cerebral palsy, and
* hypotonic cerebral palsy.

Kategori-kategori ini adalah tidak kaku, dan mayoritas dari pasien-pasien kemungkinan mempunyai campuran dari ini.
Definisi Spastic Cerebral Palsy

Spastic cerebral palsy merujuk pada kondisi dimana tone otot meningkat, menyebabkan postur yang kaku pada satu atau lebih anggota-anggota tubuh [lengan(-lengan) atau tungkai(-tungkai)]. Kekakuan ini dapat diatasi dengan beberapa tenaga, akhirnya memberikan jalan secara sepenuhnya dan tiba-tiba -- sangat mirip dengan pisau lipat yang dikenal. Kekejangan menjurus pada keterbatasan penggunaan dari anggota tubuh yang terlibat, sebagian besar disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengkoordinasi gerakan-gerakan. Seringkali kekejangan terjadi pada satu sisi tubuh (hemiparesis), namun ia juga dapat mempengaruhi keempat anggota-anggota tubuh (quadriparesis) atau dibatasi pada kedua tungkai-tungkai (spastic diplegia). Jika kondisi terjadi pada kedua tungkai-tungkai, orang itu seringkali mempunyai postur gunting, dimana tungkai-tungkai meluas dan menyilang.

Diluar tone otot yang meningkat ada juga refleks-refleks tendon dalam yang meningkat, koordinasi motor yang halus dan kasar yang terganggu, kelemahan otot, dan kelelahan diantara persoalan-persoalan lain.

Kekejangan seringkali adalah akibat dari kerusakan pada bahan putih otak, namun ia juga dapat disebabkan oleh kerusakan pada bahan abu-abu.

Derajat kekejangan dapat bervariasi, mencakup dari ringan sampai parah. Anak-anak yang dipengaruhi secara ringan mungkin mengalami sedikit keterbatasan-keterbatasan dari fungsi mereka sementara anak-anak yang dipengaruhi secara parah mungkin mempunyai sedikit penggunaan sampai penggunaan tidak berarti dari anggota-anggota tubuh yang terpengaruh. Kekejangan, jika tidak dirawat secara benar, dapat berakibat pada contractures, yang adalah keterbatasan-keterbatasan yang permanen pada kemampuan dari gerakan sendi. Contractures dapat menjadi keterbatasan yang sangat besar pada perawatan dari anak-anak dengan cerebral palsy. Kekejangan (spasticity) dapat juga sangat menyakitkan, yang memerlukan obat untuk mengendurkan tone otot.

Proses-proses dasar yang sama yang mempengaruhi kekejangan dari anggota-anggota tubuh dapat juga berakibat pada kelainan-kelainan dari gerakan dan tone otot pada sistim-sistim tubuh yang lain. Pada otot-otot dari kepala dan muka, contohnya, cerebral palsy dapat secara besar membatasi koordinasi dan produksi kemampuan bicara, bahkan jika anak itu secara sempurna mampu mengerti pembicaraan. Juga ada keterbatasan-keterbatasan dari mengunyah, menelan, dan gerakan-gerakan muka dan mata. Gejala-gejala ini dapat terutama mengganggu untuk anak-anak yang terpengaruh dan keluarga-keluarga mereka.

Banyak pasien-pasien dengan spastic cerebral palsy tidak dapat mengontrol pengeluaran urin mereka. Ketidakmampuan ini bukan disebabkan oleh persoalan-persoalan pada pemikiran namun disebabkan oleh refleks-refleks yang meningkat dari kantong kemih. Ketika kantong kemih terisi pada anak-anak ini, ia seperti mengetuk padanya dengan martil (palu) refleks, jadi membuatnya berkontraksi dengan penuh semangat daripada normal dan menyebabkan tumpahnya urin. Incontinence (tidak dapat menahan kencing) ini dapat sangat memalukan, terutama pada anak yang secara kognitif utuh.
Definisi Choreoathetoid Cerebral Palsy

Choreoathetoid cerebral palsy berhubungan dengan gerakan-erakan yang abnormal, tidak terkontrol, menggeliat dari lengan-lengan dan/atau tungkai-tungkai. Berbeda dari spastic cerebral palsy, orang-orang dengan choreoathetoid cerebral palsy mempunyai beragam tone otot seringkali dengan tone otot yang berkurang (hypotonia). Contractures dari anggota-anggota tubuh adalah kurang umum. Gerakan-gerakan yang abnormal diaktifkan oleh stres, serta oleh reaksi-reaksi emosi yang normal seperti tertawa. Segala usaha untuk melakukan gerakan-gerakan yang sukarela, misalnya menjulurkan lengan dalam usaha untuk menjangkau obyek mungkin berakibat pada banyak gerakan-gerakan yang tidak sukarela pada lengan-lengan, tungkai-tungkai, batang tubuh, dan bahkan muka. Ada tipe-tipe yang berbeda dari gerakan-gerakan yang abnormal. Dua dari yang paling umum adalah penyakit gerakan choreoathetotic dengan kontraksi-kontraksi yang cepat, tidak teratur, tidak dapat diprediksi dari individu atau kelompok-kelompok otot kecil dan dystonia dengan postur abnormal yang gigih namun tidak permanen dari beberapa bagian-bagian tubuh (lengan-lengan, tungkai-tungkai, batang tubuh) yag disebabkan oleh kontraksi-kontraksi otot yang abnormal. Penyakit dystonic juga mempengaruhi otot dari ekspresi (ungkapan) muka, menelan, deglutition dan kemampuan bicara, berakibat pada kekurangan-kekurangan fungsional yang parah.

Gerakan-gerakan ini dapat menjadi cukup melemahkan dan sangat besar membatasi kemampuan anak untuk banyak tugas-tugas motor. Lebih jauh, gerakan-gerakan adalah serupa pada latihan yang konstan, dengan demikian menyebabkan anak yang terpengaruh untuk me-metabolisme jumlah yang besar dari kalori-kalori. Choreoathetoid cerebral palsy seringkali berhubungan dengan kerusakan pada sturktur-struktur otak yang khusus yang terlibat dalam kontrol gerakan -- basal ganglia. Seperti spastic cerebral palsy, derajat dari keparahan gejala seringkali bervariasi, dari yang dipengaruhi dengan ringan sampai dengan yang parah.
Definisi Hypotonic Cerebral Palsy

Hypotonia adalah tone otot yang berkurang. Bayi atau anak dengan hypotonic cerebral palsy nampak terkulai -- seperti rag doll (boneka-boneka dari potongan-potongan kain). Pada masa kanak-kanak dini, hypotonia dapat dengan mudah terlihat oleh ketidakmampuan dari bayi untuk memperoleh segala kontrol kepala ketika ditarik oleh lengan-lengan ke posisi duduk (gejala ini seringkali dirujuk sebagai kepala yang ketinggalan). Anak-anak dengan hypotonias yang parah mungkin mempunyai kesulitan yang paling besar dari semua anak-anak dengan cerebral palsy dalam mencapai tonggak-tonggak ketrampilan motor dan perkembangan kognitif yang normal.

Hypotonic cerebral palsy seringkali adalah akibat dari kerusakan otak yang parah atau bentuk-bentuk cacad. Dipercayai bahwa hypotonic cerebral palsy adalah akibat dari luka atau bentuk cacad pada tingkat perkembangan otak dini yang menyebabkan spastic atau choreoathetoid cerebral palsy.

Hypotonia pada masa kanak-kanak adalah penemuan yang umum pada banyak kondisi-kondisi neurological, yang mencakup dari kelainan-kelainan yang sangat ringan sampai penyakit-penyakit neurodegeneratif atau otot yang parah atau bahkan fatal. Adalah penting untuk mencatat bahwa banyak anak-anak dengan spastic cerebral palsy melewati keadaan yang singkat dari menjadi sedikit banyak hypotonic pada kehidupan awalnya, sebelum menghadirkan sindrom sepenuhnya.
Definisi Cerebral Palsy Campuran

Banyak (kemungkinan kebanyakan) anak-anak dengan cerebral palsy mempunyai banyak gejala-gejala dengan kombinasi-kombinasi dari beragam bentuk-bentuk dari cerebral palsy. Contohnya, anak-anak dengan spastic cerebral palsy sering berlanjut mempunyai head lag (kepala yang ketinggalan), yang adalah wakil dari hypotonia. Anak-anak dengan choreoathetoid atau hypotonic cerebral palsy seringkali mempunyai refleks-refleks tendon dalam yang meningkat, yang menyarankan beberapa kekejangan (spasticity).
Kondisi-Kondisi Lain Yang Berhubungan Dengan Cerebral Palsy

Karena cerebral palsy adalah indikasi dari kerusakan pada atau malfungsi dari otak, adalah masuk akal bahwa gejala-gejala lain yang berhubungan dengan disfungsi otak dapat hadir pada anak-anak yang terpengaruh dengan cerebral palsy. Kenyataannya penyakit-penyakit lain, selain disfungsi-disfungsi motor yang telah digambarkan, adalah hampir selalu terlihat pada pasien-pasien ini. Beberapa dari mereka seperti kemampuan bicara yang buruk, penyakit-penyakit menelan, mengeluarkan air liur, dan koordinasi motor halus atau kaar yang buruk adalah akibat dari penyakit motor yang mempengaruhi otot-otot yang spesifik yang terlibat pada fungsi-fungsi itu. Kondisi-kondisi lain adalah hasil-hasil dari luka-luka yang bersamaan pada area-area dari otak selain area-area motor.

Ketidakmampuan-ketidakmampian kognitif, adakalanya dirujuk sebagai penundaan perkembangan, seringkali dihubungkan dengan cerebral palsy. Sampai dengan 50% dari pasien-pasien dengan cerebral palsy mempunyai ketidakmampuan-ketidakmampian kognitif. Bagaimanapun, banyak dari anak-anak ini dapat dididik dan dipimpin ke kehidupan-kehidupan yang produktif. Adalah juga sama pentingnya untuk mencatat bahwa banyak anak-anak dengan gangguan motor yang parah yang disebabkan oleh cerebral palsy, seperti kasusnya dengan banyak anak-anak dengan bentuk choreoathetotic atau diplegic dari cerebral palsy, adalah hanya terganggu secara intelektual dengan ringan atau sama sekali tidak.

Virtually all testing of a young child's cognitive development involves some sort of motor activity on the part of the child. If a child is capable of complex thoughts, but incapable of motor activity, the observer will not be able to detect his or her mental aptitude. Therefore, one must be very careful in assigning labels to patients with cerebral palsy. Certain features, however, are more likely to be associated with significant cognitive disabilities in the patient with cerebral palsy. These include extensive damage occurring on both sides of the brain, children with spastic quadriplegia, microcephaly (small head size), a documented genetic disorder, and a documented prenatal infection.

Seizures adalah penemuan yang umum pada pasien-pasien dengan cerebral palsy. Barangkali sepertiga dari semua pasien-pasien cerebral palsy mempunyai seizures. Seizures disebabkan oleh aktivitas elektrik yang abnormal dari neuron-neuro di otak. Otak yang rusak atau cacad adalah lebih cenderung pada seizures. Lebih dari itu, ketidakmampuan kognitif seringkali dihubungkan dengan epileptic seizures.

The symptoms of seizures can vary depending on where in the brain they originate. Generalized seizures engage the entire cerebral cortex at once, while partial seizures only involve part of the cerebral cortex. Often, generalized seizures begin as partial seizures but spread throughout the brain rapidly. Generalized seizures may take the form of true convulsions ("grand mal"), in which the entire body jerks in a rhythmic fashion, or the form of absences ("petit mal"), which interrupt the patient's activities for a brief period, but does not cause a fall.

Other forms of generalized seizures can occur in the cerebral palsy patient. Atonic seizures cause the patient to slump suddenly to the ground or forward in their chair, resembling a marionette in which the puppeteer suddenly cut the strings. Tonic seizures are just the opposite and cause the entire body to suddenly stiffen. Both tonic and atonic seizures can result in drop attacks in which the patient falls to the ground, often resulting in injury.

Partial seizures may involve the jerking of the arm and leg on the same side of the body. Alternatively, they may be associated with strange sensory phenomena, such as flashing lights, or emotions, such as fear, depending on where in the brain the seizure occurs.

Kekurangan-kekurangan penglihatan seringkali terlihat. Beberapa dari mereka, contohnya, strabismus ("mata yang malas") dapat dikoreksi dengan prosedur-prosedur operasi pada otot-otot dari mata-mata. Beberapa dapat dikoreksi dengan kacamata-kacamata (yang mungkin sulit dilakukan pada anak-anak yang tidak kooperatif). Pada anak-anak yang lain kekurangan-kekurangan penglihatan adalah akibat dari luka-luka otak pada area-area otak yang berhubungan dengan penglihatan, menyumbang anak kebutaan (cortical blindness) bahkan jika mata-mata mereka sendiri adalah sangat normal. Pada saat ini tidak ada perawatan untuk memperbaiki kondisi ini.

Anak-anak dengan cerebral palsy dapat mempunyai penyakit-penyakit kemampuan bicara dari banyak tipe-tipe. Beberapa, seperti pengejaan kata yang buruk (dysarthria), adalah akibat dari gangguan dari mekanisme kemampuan bicara peripheral (koordinasi bibir-bibir, lidah, atau palate yang buruk). Pada keadaan-keadaan yang lain ada luka otak di gray matter dari otak yang mengontrol mekanisme pusat dari kemampuan bicara (aphasia).

Adalah sulit bagi anak-anak dengan cerebral palsy untuk menambah berat badan dan seringkali mempunyai pertumbuhan yang tertunda. Ini adalah akibat dari beberapa faktor-faktor termasuk penyakit-penyakit feeding, gastroesophageal reflux, dan pada beberapa kejadian-kejadian, contohnya, anak-anak dengan penyakit-penyakit choreoathetotic, konsumsi kalori yang berlebihan. Di sisi lain, obesity (kegemukan) dapat menjadi persoalan pada anak-anak dengan cerebral palsy yang mempunyai mobilitas yang terbatas.sumber:http://www.totalkesehatananda.com

Baca Selengkapnya...;

Retardasi Mental II

Retardasi mental merupakan masalah dunia dengan implikasi yang besar terutama bagi Negara berkembang. Diperkirakan angka kejadian retardasi mental berat sekitar 0.3% dari seluruh populasi dan hamper 3% mempunyai IQ dibawah 70.Sebagai sumber daya manusia tentunya mereka tidak bias dimanfaatkan karena 0.1% dari anak-anak ini memerlukan perawatan, bimbingan serta pengawasan sepanjang hidupnya.(Swaiman KF, 1989).

Sehingga retardasi mental masih merupakan dilema, sumber kecemasan bagi keluarga dan masyarakat.Demikian pula dengan diagnosis, pengobatan dan pencegahannya masih merupakan masalah yang tidak kecil.
Definisi
Terdapat berbagai macam definisi mengenai retardasi mental. Menurut WHO (dikutip dari Menkes, 1990), retardasi mental adalah kemampuan mental yang tidak mencukupi.Carter CH (dikutip dari Toback C.) mengatakan retardasi mental adalah suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensi yang rendah yang mnyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal. Menurut Crocker AC 1983, retardasi mental adalah apabila jelas terdapat fungsi intelegensi yang rendah yang disertai adanya kendala dalam penyesuaian perilaku dan gejalanya timbul pada masa perkembangan. Sedangkan menurut Melly Budhiman, seseorang dikatakan retardasi mental bila memenuhi criteria sebagai berikut :

1. Fungsi intelektual umum dibawah normal
2. Terdapat kendala dalam perilaku adaptif sosial
3. Gejalanya timbul dalam masa perkembangan yaitu dibawah usia 18 tahun

Fungsi intelektual dapat diketahui dengan tes fungsi kecerdasan dan hasilnya dinyatakan sebagai suatu taraf kecerdasan atau IQ (Intelegence Quotient).

IQ = MA/CA × 100%

MA = Mental Age, umur mental yang didapat dari hasil tes

CA = Chronological Age, umur berdasarkan perhitungan tanggal lahir

Yang dimaksud fungsi intelektual dibawah normal, yaitu apabila IQ dibawah 70. anak ini tidak dapat mengikuti pendidikan sekolah biasa karena cara berpikirnya yang terlalu sederhana,daya tangkap dan daya ingatnya lemah, demikian pula dengan pengertian bahasa dan berhitungnya juga sangat lemah.

Sedangkan yang dimaksud dengan perilaku adaptif social adalah kemampuan seseorang untuk mandiri, menyesuaikan diri dan mempunyai tanggung jawab social yang sesuai dengan kelompok umur dan budayanya. Pada penderita retardasi mental gangguan perilaku adaptif yang paling menonjol adalah kesulitan menyesuaikan dirir dengan masyarakat sekitarnya. Biasanya tingkah lakunya kekanak-kanakan tidak sesuai dengan umurnya.

Gejala tersebut harus timbul pada masa perkembangan, yaitu dibawah umur 18 tahun. Karena kalau gejala tersebut timbul setelah berumur 18 tahun bukan lagi disebut retardasi mental tetapi penyakit lain sesuai dengan gejala klinisnya.


Yang disebut retardasi mental apabila IQ dibawah 70, retardasi mental tipe ringan masih mampu didik, retardasi mental tipe sedang mampu latih, sedangkan retardasi mental tipe berat dan sangat berat memerlukan pengawasan dan bimbingan seumur hidupnya. Bila ditinjau dari gejalanya, maka Melly Budhiman membagi :

Tipe Klinik

Pada retardasi mental tipe klinik ini mudah dideteksi sejak dini karena kelainan fisis maupun mentalnya cukup berat. Penyebabnya sering kelainan organik. Kebanyakan anak ini perlu perawatan yang terus menerus dan kelainan ini dapat terjadi pada kelas sosial tinggi ataupun yang rendah. Orang tua dari anak yang menderita retardasi mental tipe klinik ini cepat mencari pertolongan oleh karena mereka melihat tipe klinik ini cepat mencari pertolongan oleh karena mereka melihat sendiri kelainan pada anaknya.


Tipe Sosio Budaya

Biasanya baru diketahui setelah anak masuk sekolah dan ternyata tidak dapat mengikuti pelajaran. Penampilannya seperti anak normal sehingga disebut juga retardasi enam jam. Karena begitu mereka keluar sekolah, mereka bermain seperti anak-anak yang normal lainnya. Tipe ini kebanyakan berasal dari golongan social ekonomi rendah. Pada orang tua dari anak tipe ini tidak melihat adanya kelainan pada anaknya, mereka mengetahui kalau anaknya retardasi dari gurunya atau psikolog karena anaknya gagal beberapa kali tidak naik kelas. Pada umumnya anak tipe ini mempunyai taraf IQ golongan borderline dan retardasi mental ringan.


Etiologi

Adanya disfungsi otak merupakan dasar dari retardasi mental. Untuk mengetahui adanya retardasi mental perlu anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Penyebab dari retardasi mental sangat kompleks dan multifaktorial. Walaupun begitu terdapat beberapa factor yang potensial berperanan dalam terjadinya retardasi mental seperti yang dinyatakan oleh Taft LT (1983) dan Shonkoff JP (1992) dibawah ini.

Faktor-Faktor Yang Potensial Sebagai Penyebab Retardasi Mental

1. Non-Organik

- Kemiskinan dan keluarganya yang tidak harmonis

- Factor sosio cultural

- Interaksi anak-pengasuh yang tidak baik

- Penelantaran anak

2. Oraganik

- Faktor prakonsepsi

a. Abnormalitas single gene ( penyakit –penyakit metabolik, kelainan neurokutaneus, dll )

b. Kelainan kromosom ( X-linked, translokasi, fragile-X), sindrom polygenic familial.

- Factor prenatal

a. Gangguan pertumbuhan otak trimester I

· Kelainan kromosom ( trisomi, mosaik, dll)

· Infeksi intrauterine, misalnya TORCH, HIV

· Zat-zat teratogen ( alcohol, radiasi, dll )

· Disfungsi plasenta

· Kelainan congenital dari otak (idiopatik)

b. Gangguan pertumbuhan otak trimester II dan III

· Infeksi intrauterine, misalnya TORCH, HIV

· Zat- zat teratogen ( alcohol, kokain, logam berat, dll )

· Ibu : diabetes mellitus, PKU ( phenilketonuria )

· Toksemia gravidarum

· Disfungsi plasenta

· Ibu malnutrisi

- Factor perinatal

a. Sangat premature

b. Asfiksia neonatorum

c. Truma lahir : perdarahan intracranial

d. Meningitis

e. Kelainan metabolic : hipoglikemik, hiperbilirubinemia

- Factor post natal

a. Trauma berat pada kepala/susunan saraf pusat

b. Neurotoksin, misalnya logam berat

c. CVA ( Cerebrovaskuler accident )

d. Anoksia, misalnya tenggelam

e. Metabolic

· Gizi buruk

· Kelainan hormonal, misalnya hipotiroid, pseudohipotiroid

· Amino aciduria, misalnya PKU

· Kelainan metabolisme karbohidrat, galaktosemia dll

· Polisakaridosis, misalnya sindrom Hurler

· Cerebral lipidosis ( Tay Sachs ), dengan hepatomegali ( Gaucher )

· Penyakit degeneratif/ metabolic lainnya.

f. Infeksi

· Meningitis, ensefalitis, dll.

· Subakut sklerosing panasefalitis

Kebanyakan anak yang menderita retardasi mental ini berasal dari golongan social ekonomi rendah akibat kurangnya stimulasi dari lingkungannya sehingga secara bertahap menurunkan IQ yang bersamaan dengan terjadinya maturasi. Demikian pula dengan keadaan social ekonomi yang rendah dapat sebagai penyebab organic dari retardasi mental, misalnya keracunan logam berat yang subklinik dalam jangka waktu yang lama dapat mempengaruhi kemampuan kognitif, ternyata lebih banyak pada anak-anak dikota dari golongan social ekonomi rendah. Demikian pula dengan kurang gizi, baik pada ibu hamil maupun pada anaknya setelah lahir dapat mempengaruhi pertumbuhan otak anak.

Diagnosis dan Gejala Klinis

Untuk menegakkan diagnosis, anamnesis yang baik sangat diperlukan, yaitu untuk mengetahui penyebab kelainan ini organic atau non organic, apakah kelainannya dapat diobati/tidak dan apakah ada factor genetic/tidak. Dengan melakukan skrining secara rutin misalnya dengan menggunakan DDST (Denver Developmental Screening Test), maka diagnosis dini dapat segera dibuat. Demikian pula anamnesis yang baik dari orang tuanya, pengasuh atau gurunya, sangat membantu dalam diagnosis kelainan ini. Setelah anak berumur enam tahun dapat dilakukan tes IQ. Sering kali hasil evaluasi medis tidak khas dan tidak dapat diambil kesimpulan. Pada kasus seperti ini, apabila tidak ada kelainan pada system susunan saraf pusat, perlu anamnesis yang teliti apakah ada keluarga yang cacat, mencari masalah lingkungan/factor non organic lainnya dimana diperkirakan mempengaruhi kelainan pada otak anak.

Gejala klinis retardasi mental terutama yang berat sering disertai beberapa kelainan fisik yang merupakan stigmata congenital yang kadang-kadang gambaran stigmata mengarah kesuatu sindrom penyakit tertentu. Dibawah ini beberapa kelaianan fisik dan gejala yang sering disertai retardasi mental, yaitu :

1. Kelainan pada mata :

a. Katarak

- Sindrom Cockayne

- Sindrom Lowe

- Galactosemia

- Sindrom Down

- Kretin

- Rubella Pranatal, dll.

b. Bintik cherry-merah pada daerah macula

- Mukolipidosis

- Penyakit Niemann-Pick

- Penyakit Tay-Sachs

c. Korioretinitis

- Lues congenital

- Penyakit Sitomegalovirus

- Rubella Pranatal

d. Kornea keruh

- Lues Congenital

- Sindrom Hunter

- Sindrom Hurler

- Sindrom Lowe

2. Kejang

a. Kejang umum tonik klonik

- Defisiensi glikogen sinthesa

- Hipersilinemia

- Hipoglikemia, terutama yang disertai glikogen storage disease I, III, IV, dan VI

- Phenyl ketonuria

- Sindrom malabsobrsi methionin, dll.

b. Kejang pada masa neonatal

- Arginosuccinic asiduria

- Hiperammonemia I dan II

- Laktik asidosis, dll.

3. Kelainan kulit

a. Bintik café-au-lait

- Atakasia-telengiektasia

- Sindrom bloom

- Neurofibromatosis

- Tuberous selerosis

4. Kelainan rambut

a. Rambut rontok

- Familial laktik asidosis dengan Necrotizing ensefalopati

b. Rambut cepat memutih

- Atrofi progresif serebral hemisfer

- Ataksia telangiektasia

- Sindrom malabsorbsi methionin

c. Rambut halus

- Hipotiroid

- Malnutrisi

5. Kepala

a. Mikrosefali

b. Makrosefali

- Hidrosefalus

- Neuropolisakaridase

- Efusi subdural

6. Perawakan pendek

a. Kretin

b. Sindrom Prader-Willi

7. Distonia

a. Sindrom Hallervorden-Spaz

Sedangkan gejala dari retardasi mental tergantung dari tipenya, adalah sebagai berikut:

1. Retardasi mental ringan

Kelompok ini merupakan bagian terbesar dari retardasi mental. Kebanyakan dari mereka ini termasuk dari tipe social-budaya dan diagnosis dibuat setelah anak beberapa kali tidak naik kelas. Golongan ini termasuk mampu didik, artinya selain dapat diajar baca tulis bahkan bias bisa sampai kelas 4-6 SD, juga bisa dilatih keterampilan tertentu sebagai bekal hidupnya kelak dan mampu mandiri seperti orang dewasa yang normal. Tetapi pada umumnya mereka ini kurang mampu menghadapi stress sehingga tetap membutuhkan bimbingan dari keluarganya.

2. Retardasi mental sedang

Kelompok ini kira-kira 12% dari seluruh penderita retardasi mental, mereka ini mampu latih tetapi tidak mampu didik. Taraf kemampuan intelektualnya hanya dapat sampai kelas dua SD saja, tetapi dapat dilatih menguasai suatu keterampilan tertentu, misalnya pertukangan, pertanian, dll. Apabila bekerja nanti mereka ini perlu pengawasan. Mereka juga perlu dilatih bagaimana mengurus diri sendiri. Kelompok ini juga kurang kurang mampu menghadapi stress dan kurang mandiri sehingga perlu bimbingan dan pengawasan.

3. Retardasi mental berat

Sekitar 7% dari seluruh penderita retardasi mental masuk kelompok ini. Diagnosis mudah ditegakkan secara dini karena selain adanya gejala fisik yang menyertai juga berdasarkan keluhan dari orang tua dimana anak sejak awal sudah terdapat keterlambatan perkembangan motorik dan bahasa. Kelompok ini termasuk tipe klinik. Mereka dapat dilatih hygiene dasar saja dan kemampuan berbicara yang sederhana, tidak dapat dilatih keterampilan kerja, dan memerlukan pengawasan dan bimbingan sepanjang hidupnya.

4. Retardasi mental sangat berat

Kelompok ini sekitar 1% dan termasuk dalam tipe klinik. Diagnosis dini mudah dibuat karena gejala baik mental dan fisik sangat jelas. Kemampuan berbahasanya sangat minimal. Mereka ini seluruh hidupnya tergantung orang disekitarnya.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan anak dengan retardasi mentaladalah multidimensi dan sangat individual. Tetapi perlu diingat bahwa tidak setiap anak penaganan multidisiplin merupakan jalan terbaik. Sebaiknya dibuat rancangan suatu strategi pendekatan bagi setiap anak secara individual untuk mengembangkan potensi anak tersebut seoptimal mungkin. Untuk itu perlu melibatkan psikolog untuk menilai perkembangan mental anak terutama kemampuan kognitifnya, dokter anak untuk memeriksa perkembangan fisiknya, menganalisis penyebab dan mengobati penyakit atau kelainan yang mungkin ada. Juga kehadiran dari pekerja social kadang-kadang diperlukan untuk menilai situasi keluarganya. Atas dasar itu maka dibuatlah strategi terapi. Sering kali melibatkan lebih banyak ahli lagi, misalnya ahli saraf bila anak juga menderita epilepsy, palsi serebral dll. Psikiater bila anaknya menunjukkan kelainan tingkah laku atau bila orang tuanya membutuhkan dukungan terapi keluarga. Ahli rehabilitasi medis bila diperlukan untuk merangsang perkembangan motorik dan sensoriknya. Ahli terapi wicara untuk memperbaiki gangguan bicaranya atau untuk merangsang perkembangan bicaranya. Serta diperlukan guru pendidikan luar biasa untuk anak-anak yang retardasi mental ini.

Pada orang tuanya perlu diberikan penerangan yang jelas mengenai keadaan anaknya dan apa yang dapat diharapkan dari terapi yang diberikan. Kadang-kadang diperlukan waktu yang lama untuk meyakinkan orang tua mengenai keadaan anaknya maka perlu konsultasi pula dengan psikolog atau psikiater. Disamping itu diperlukan kerja sama yang baik antara guru dan orang tuanya, agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam strategi penanganan anak disekolah dan dirumah. Anggota keluarga lainnya juga harus diberi pengertian agar anak tidak diejek atau dikucilkan. Disamping itu, masyarakat perlu diberikan penerangan tentang retardasi mental agar mereka dapat menerima anak tersebut dengan wajar.

Anak dengan retardasi mental memerlukan pendidikan khusus yang sesuaikan dengan taraf IQ-nya. Mereka digolongkan yang mampu didik untuk golongan retardasi mental ringan dan yang mampu latih untuk anak dengan retardasi mental sedang. Sekolah khusus untuk anak retardasi mental ini adalah SLB-C. Di sekolah ini diajarkan juga keterampilan-keterampilan dengan harapan mereka dapat mandiri di kemudian hari. Di ajarkan pula tentang baik-buruknya suatu tindakan tertentu sehingga mereka diharapkan tidak memerlukan tindakan yang tidak terpuji, seperti mencuri, merampas, kejahatan seksual dan lain-lain.

Semua anak yang retardasi mental ini juga memerlukan perawatan seperti pemeriksaan kesehatan yang rutin, imunisasi dan monitoring terhadap tumbuh kembangnya. Anak-anak ini juga disertai dengan kelainan fisik yang memerlukan penangan khusus. Misalnya pada anak yang mengalami infeksi pranataldengan cytomegalovirus akan mengalami gangguan pendengaran yang progresif walaupun lambat, demikian pula anak dengan sindrom Down dapat timbul gejala hipotiroid. Masalah nutrisi juga perlu mendapat perhatian.

Prognosis

Retardasi mental yang diketahuipenyakit dasarnya, biasanya prognosisnya lebih baik. Tetapi pada umumnya sukar untuk menemukan penyakit dasarnya. Anak dengan dengan retardasi mental ringan dengan kesehatan yang baik tanpa penyakit kardiorespirasi, pada umumnya umur harapan hidupnya sama dengan orang yang normal. Tetapi sebaliknya pada retardasi mental yang berat dengan masalah kesehatan dan gizi, sering meninggal pada usia muda.

Pencegahan

Karena penyembuhan dari retardasi mental ini boleh dikatakan tidak ada sebab kerusakan dari sel-sel otak tidak mungkin fungsinya dapat kembali normal maka yang penting adalah pencegahan primer yaitu usaha yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit. Dengan memberikan perlindungan terhadap penyakit-penyakit yang potensial dapat menyebabkan retardasi mental, misalnya melalui imunisasi. Konseling perkawinan, pemeriksaan kehamilan yang rutin, nutrisi yang baik selama kehamilan dan bersalin pada tenaga kesehatan yang berwenang maka dapat membantu menurunkan angka kejadian retardasi mental. Demikian pula dengan mengentaskan kemiskinan dengan membuka lapangan kerja, memberikan pendidikan yang baik, memperbaiki sanitasi lingkungan, meningkatkan gizi keluarga akan meningkatkan ketahanan terhadap penyakit. Dengan adanya program BKB ( Bina Keluarga dan Balita ) yang merupakan stimulasi mental dini dan bisa dikembangkan juga deteksi dini maka dapat mengoptimalkan perkembangan anak.

Diagnosis dini sangat penting dengan melakukan skrining sedini mungkin terutama pada tahun pertama maka dapat dilakukan intervensi yang dini pula. Misalnya diagnosis dini dan terpi dini hipotiroid dapat memperkecil kemungkinan retardasi mental. Deteksi dan intervensi dini pada retardasi mental sangat membantu memperkecil retardasi yang terjadi. Konsep intervensi pada retardasi mental yang berdasarkan pemikiran bahwa intervensi dapat merubah status perkembangan anak. Makin sering dan makin dini intervensi dilakukan, maka makin baik hasilnya. Tetapi makin berat tingkat kecacatan maka hasil yang dicapai juga makin kurang. Hasil akhir suatu intervensi adalah makin dini dan teratur suatu intervensi yang diberikan makin baik hasilnya sehingga agak mengurangi kecacatannya. Namun pada anak yang penyebabnya sangat kompleks, latar belakang social dan kebiasaan yang kurang baik dan intervensi yang tidak teratur maka hasilnya juga tidak memuaskan.sumber:http://medicafarma.blogspot.com

Baca Selengkapnya...;